Hari ini, hari Selasa adalah hari pertama Rabu pindah ke Sekolah yang berada di kawasan Buah Batu, Bandung. Sebenarnya ia tak ingin pindah ke Bandung, dia sudah terlalu nyaman tinggal di Yogyakarta. Tetapi karena tuntutan kerja ayahnya, jadi ia sekeluarga pindah ke Bandung.
Rabu menggerutu karena ayahnya menurunkannya di depan Jalan Solontongan dengan alasan ayahnya sedang buru-buru. Terlihat banyak anak SMA dan SMK berjalan menyusuri Jalan Solontongan ini bersama-sama.
Rabu berpikir, mungkin nanti dirinya juga akan begitu bersama teman barunya.
"Hey!" panggil seorang perempuan dibelakangnya
Rabu melihat, dan menunjuk dirinya seakan bertanya "aku?"
"Tayo," lanjutnya sambil tertawa penuh kepuasan
Rabu memutar matanya malas, kemudian perempuan itu mengejarnya. Lalu menyamakan langkahnya dengan Rabu
"Eh maaf maaf," ucapnya masih tertawa
"Iya dimaafkan," jawab Rabu singkat
"Kok aku baru liat kamu disini ya, sekolah di SMAN 280 ya?" tanya perempuan itu
"Iya, pindahan," jawab Rabu
"Sekarang hari pertama?" tanyanya lagi
"Iya,"
"Kelas apa, jurusan apa?" Perempuan itu lagi-lagi bertanya
"Bawel" ucap Rabu dalam hati
"11 MIPA 3" jawab Rabu
"Anak pinter nih masuk IPA. Oh iya, aku duluan ya?" Pamit perempuan itu
"Iya"
Perempuan itu pergi, entah kemana, Rabu tak peduli.
***
Hari kedua, tepatnya hari Rabu. Lagi-lagi Rabu menggerutu karena ayahnya menurunkannya lagi di depan Jalan Solontongan, dengan alasan yang sama seperti kemarin. Rabu menghela nafas, malas sekolah karena seperti dugaannya, ia susah mendapatkan teman.
"Selamat hari Rabu untuk seorang yang befnama Rabu," ucap seseorang yang ternyata adalah perempuan yang kemarin sok kenal sok deket kepada Rabu
"Selamat hari Rabu juga," jawab Rabu
"Eh? Kok tau namaku? Lanjutnya
"Liat bet nama kamu."
Rabu hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Rabu, aku boleh tanya?" Tanya perempuan itu
Lagi-lagi Rabu hanya mengangguk
"Kenapa muka kamu keliatan kusut dari kemarin?" Tanya nya lagi sambil cengengesan
"Karena setiap hari rasanya males banget sekolah," jawab Rabu enteng
"Entah karena temannya, sekolahnya, ataupun gurunya. Yang jelas, rasanya selalu ingin berhenti. Kalau bisa berhenti sekarang, kayanya aku bakal berhenti detik ini juga deh" Lanjutnya
"Hm gitu ya. Aku duluan ya Rabu." Ucap perempuan itu yang langsung pergi
"Aku salah ngomong?" Ucap rabu kepada dirinya sendiri dengan kebingungan
"Gak tau deh, kenal juga engga."
***
Hari ini Rabu juga seperti biasa berjalan di sepanjang jalan Solontongan, dia berjalan sangat pelan. Karena merasa ada yang kurang di pagi hari kali ini. Apa karena perempuan itu tidak ada? Entahlah, Rabu tidak mengerti.
Sekarang sudah pukul 16.00, Rabu hendak pulang, tetapi langit tidak mengizinkannya. Hujan turun, murid-murid berlarian mencari tempat berteduh. Termasuk Rabu, ia berteduh di sebuah warung kecil yang terlihat sudah sangat tua dan dagangannya pun hanya sedikit. Karena merasa agak haus, Rabu membeli Teh Hangat untuk meredakan hausnya sekaligus menghangatkan tubuhnya.
Rabu mengernyitkan dahinya, saat melihat perempuan yang selalu berbicara dengannya di pagi hari keluar membawa Segelas Teh Hangat untuknya. Lalu duduk di kursi sebelahnya.
"Kok bolos?" Tanya Rabu membuka pembicaraan
"Aku gak bolos," jawabnya sembari menatap kakinya yang ia ayun-ayunkan
"Kok aku gak liat kamu pagi tadi?" Tanya Rabu lagi
"Karena dari awal aku emang gak sekolah, aku gak bisa sekolah" jawab perempuan itu
Rabu terdiam.
"Aku udah beberapa bulan kaya gini, jalan di sepanjang Jalan Solontongan pake seragam SMA biar bisa ngerasain gimana jadi anak sekolahan yang berangkat sekolah sama temen-temennya,"
"Awalnya aku gak pernah ngajak ngobrol orang yang ada disekitar situ karena meraka selalu sama temen-temennya. Dan senin kemarin, kebetulan aku liat kamu sendirian." Ucap perempuan itu
"Terus kenapa kamu tiba-tiba ngilang hari ini?" Tanya Rabu
"Ada beberapa alasan sih, salah satunya, karena jawaban kamu kemarin. Maaf sebelumnya, tapi aku ngerasa kamu gak bersyukur," jawab perempuan itu
"Kamu dengan gampangnya bilang ingin berhenti, sedangkan aku disini mau banget sekolah tapi gak bisa" lanjutnya
"Maaf" ucap Rabu
"Mulai hari ini, cobalah untuk jadi orang yang lebih bersyukur Ra, kamu boleh ngerasa malas, tapi setelah itu kamu harus bangkit lagi. Jangan sampai perasaan malas kamu bikin kamu jadi berhenti sekolah, karena itu sama aja kaya kamu ngerusak masa depan kamu sendiri." Ucap perempuan itu panjang lebar
"Mungkin kamu lelah, tapi itu pasti akan cepat berlalu. Seperti hari Selasa yang berlalu begitu cepat menuju hari Rabu." Lanjutnya sambil tersenyum penuh arti.
Rabu terdiam, tertegun mendengar ucapan perempuan itu
"Udah reda, mending kamu pulang sebelum hujan nya turun lagi" ucapnya, yang lalu menyodorkan sebuah payung kepada Rabu
"Siapa tau di jalan hujan lagi" lanjutnya
Rabu mengambilnya, lalu bangkit dari duduknya. Rabu tersenyum.
"Makasih," ucap Rabu sambil berlalu dari perempuan itu
Saat berjalan, Rabu rupanya lupa melakukan sesuatu, ia menoleh lagi ke belakang, melihat perempuan tadi yang sedang menatapnya.
"HEI!" Teriak Rabu yang sudah agak jauh dari warung dimana perempuan itu berada
"Apa?" Teriak perempuan itu karena hujan turun kembali, jadi kalau gak teriak, gak bakal kedengaran
"Namamu?" Tanya Rabu
"SELASA!" Jawabnya
Rabu tersenyum, lalu melambaikan tangannya. Selasa pun ikut tersenyum melihat kepergian Rabu.
"Selasa, terima kasih sudah mengajari Rabu tentang bagaimana cara agar bersyukur"
Tamat